Go to Top

Pemilu 2014 Pakai Cara Lama, Dicoblos

<

p>VIVAnews – Sistem pemungutan suara dalam Pemilu 2014 akan berbeda dibanding dengan Pemilu 2009 yang lalu. Komisi Pemilihan Umum (KPU) akan mengembalikan cara memilih pada kebiasaan lama, yaitu mencoblos.

“Kalau 2009 kita masih dengan cara mencentang, mencontreng, memberi tanda dengan alat tulis. Sekarang kami kembalikan dengan paku, coblos,” kata Hadar saat ditemui di Hotel Oria, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa 29 Oktober 2013.

KPU akan menyediakan paku sekaligus bantalannya pada tiap bilik suara. Kata Hadar, jika tidak menggunakan bantalan, meskipun paku ditekan sering kali tidak tembus kertas suara.

“Sehingga akhirnya membuat tidak sah atau tidak bisa dibaca hasil coblosannya,” katanya.

Hadar menjelaskan pada Pemilu 2009, tingkat ketidaksahan dari pemilih begitu tinggi, yaitu mencapai 14,3 persen. Jika dibanding dengan Pemilu 2004, meningkat lebih dari delapan persen.

“Itu akibat dikenalkan cara baru dengan mencentang atau mencontreng ini sehingga mereka (pembuat undang-undang) putuskan dikembalikan. Kami ikut saja karena kami penyelenggara dan itu sudah diatur dalam undang-undang,” ujarnya.

Boleh Coblos Pakai Pulpen

KPU juga membolehkan pemilih mencoblos dengan menggunakan pulpen. Selama diberi tanda coblos di surat suara di tempat yang benar, maka dianggap sah.

“Kalau rokok kami putuskan tidak sah. Kalau sobekan pun diambil, dicuil, kami anggap tidak sah. Karena, dua hal ini bisa dijadikan pengalaman di Pemilukada untuk bermain curang, money politics, diambil sebagai tanda bahwa dia sudah mencoblos yang dipesan,” tuturnya.

Hadar menambahkan KPU juga bisa menentukan sah tidaknya suara pemilih dari maksud atau niat mereka. Sepanjang niatnya jelas dan bisa dipahami, lanjutnya, maka masuk kategori sah.

“Kalau dia memilih di satu calon, walaupun dia mencoblosnya lebih dari satu kali itu kan tidak ada masalah. Berarti dia memang memilih calon itu. Jadi, ya kami anggap sah. Dia memilih agak miring-miring, di luar garis tapi yang dimaksudkan calon itu ya kita harus anggap sah,” jelasnya.

“Kalau dia milih di dua calon, dua partai, silang calon jelas itu nggak ketahuan milih yang mana. Tentu itu tidak sah. Jadi unsur niatan pemilih harus kita perhatikan. Jangan-jangan ini juga yang menyebabkan 2009 banyak yang tidak sah karena mereka tidak perhatikan ini,” dia menambahkan. (umi)

<

p> Sumber: Viva News

<

p> Disajikan oleh: Suara Masyarakat

, ,